Sudah terbit: Volume 57!
Sudah terbit: Volume 33!

BINASA KARENA HARTA

1 2 3 4 5 Rating 4.22 (18 Votes)
AddThis Social Bookmark Button

Baca: Kisah Pr. Rasul 8:4-25

Tetapi Petrus berkata kepadanya, "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang.” (Kisah Pr. Rasul 8: 20)


Bacaan Alkitab Setahun:
Markus 8-9



Dinda beranjak dari duduknya dan segera membungkam mulut Linda, adiknya. Sambil memberikan isyarat untuk diam, Dinda meraih sebatang cokelat dari dalam tas. Ia menyodorkan camilan kegemaran Linda itu dengan satu syarat: tidak mengadu pada ibu kalau Dinda tidak belajar, melainkan menonton film.

Meskipun belum mengenal istilah korupsi atau kasus suap, ternyata anak-anak pun bisa melakukannya tanpa diajari. Ya, sejak manusia pertama jatuh dalam dosa, manusiatermasuk anak-anakmemang memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa. Dan korupsi atau suap termasuk bentuk dosa yang sudah ada sekian lama. Alkitab pun menuliskannya, antara lain dalam bacaan hari ini.

Saat Simon si tukang sihir dari Samaria mengaku bertobat dan menerima baptis, ia begitu takjub melihat para rasul menjadi perantara mengalirnya kuasa Roh Kudus dalam diri orang Samaria yang bertobat. Seperti pelaku suap saat ini, Simon menawarkan sejumlah uang untuk membeli karunia Tuhan itu. Sangkanya segala sesuatu dapat dibeli dengan uang. Beruntung karena Simon mau mendengar nasihat Petrus untuk bertobat dari pikirannya yang jahat, yang dapat menjadikannya binasa.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita bersikap takut akan Tuhan? Ataukah kita bersikap seperti Simon, mencoba menyuap Tuhan melalui persembahan dan pelayanan kita? Akankah kita mengejar harta dan kesenangan duniawi dengan mengabaikan harta surgawi yang tak ternilai harganya?EBL

KITA TIDAK DAPAT MEMBELI KARUNIA ALLAH DENGAN UANG;
KITA HANYA DAPAT MENERIMANYA DENGAN KERENDAHAN HATI


Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria

Respons: