Sudah terbit: Volume 57!
Sudah terbit: Volume 33!

MENJADI TUMPUL

1 2 3 4 5 Rating 5.00 (1 Vote)
AddThis Social Bookmark Button

Baca: Efesus 4:17-32

Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan dengan serakah mengerjakan segala macam perbuatan cemar. (Efesus 4:19)


Bacaan Alkitab Setahun:
Nehemia 7-8



Saya takjub pada seorang penjual martabak telur. Bayangkan, ia menaruh lapisan kulit martabak ke kuali berisi minyak mendidih dengan tangan telanjang. Bahkan ia melipat dan membalikan martabak itu dengan tangannya tanpa meringis kepanasan. Saat saya tanya apakah ia tidak merasa kesakitan, ia menjawab ringan, “Tidak, Pak. Sudah terbiasa. Jadi, sudah kebal.” Namun, kekaguman itu berubah menjadi kekhawatiran ketika kawan saya seorang dokter berkata bahwa hal itu justru membahayakan dirinya. Ia bisa saja tidak sadar jika tangannya terbakar karena ia tidak bisa lagi merasakan panas.

Ketika berulang-ulang berbuat dosa, kita akan mengalami penumpulan hati nurani. Kita kehilangan kepekaan untuk mendengarkan suara Roh Kudus yang menegur dan memperingatkan kita. Seperti sebuah lingkaran setan, penumpulan ini membuat kita menjadi semakin mudah untuk berbuat dosa yang lebih besar (ay. 19). Pada akhirnya, penumpulan menggiring kita pada kehancuran karena dosa itu (ay. 22). Bagaimana mencegah penumpulan hati nurani? Kita harus terus menerus “mengenakan manusia baru” dan hidup dalam kekudusan (ay. 24). Ketika jatuh dalam dosa, bertobatlah. Jatuh lagi? Bertobat lagi! Jangan menyerah.

Kita perlu berintrospeksi dengan jujur di hadapan Tuhan. Apakah kita sedang mengalami penumpulan hati nurani? Bangunlah dari keterlenaan rohani. Jangan bermain-main dengan dosa. Bila benar hati nurani kita tumpul, obat penawarnya hanya satu: Bertobatlah. Ya, bertobatlah!—JIM

SEMAKIN TUMPUL HATI NURANI KITA TERHADAP DOSA,
SEMAKIN RENTAN KEHIDUPAN KITA TERHADAP KEHANCURAN


Anda diberkati melalui Renungan Harian?
Jadilah berkat dengan mendukung pelayanan kami.
Rek. Renungan Harian BCA No. 456 500 8880 a.n. Yayasan Gloria

Respons: